Ayahanda R.Soekari meninggalkan wasiat buku silsilah yang ditulis dalam huruf Jawa dan disalin saya, silsilah berawal dari Sunan Bayat atau nama lainnya Pangeran Mangkubumi atau Susuhunan Tembayat atau Sunan Pandanaran dua (II) atau Wahyu Widayat, Sunan Bayat adalah tokoh penyebar agama islam di Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan, Sunan Bayat terkait dengan sejarah kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa. Makam Sunan Bayat terletak di perbukitan "Gunung Jabalkat" di wilayah Kecamatan Bayat - Klaten - Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pulalah konon Sunan Bayat menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Sunan Bayat dianggap hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16).Terdapat beberapa versi mengenai turunan Sunan Bayat, dengan adanya blog ini saya harap dapat mempersatukan, saling melengkapi dan bersilaturrahmi antar teturunan Sunan Bayat khususnya keluarga R. Soekari bin R.Kromodiwirjo.

Sunan Bayat adalah leluhur dari R.Soekari Kromodiwirjo.

Raden Soekari Kromodiwirjo adalah keturunan dari Sunan Bayat sebagaimana tertulis didalam catatan silsilah keluarga Soekari yang ditulis dalam huruf Jawa.

Pangeran Bayat atau Susuhunan Tembayat mempunyai gelar Sunan Pandanaran atau juga dikenal dengan sebutan Sunan Bayat yang makamnya terletak di perbukitan Jabalkat, Bayat Klaten, Jawa Tengah. Sunan Bayat mempunyai putera yang tinggal berpisah pisah, diantara putra putrinya tersebut salah satunya tinggal di Kampak, Trenggalek, Tulungagung sebagai Pengageng Merdiko, yaitu R.Ronosentiko.

R.Ronosentiko mempunyai putera 2 orang yaitu,

1. R.Kromodiwirjo,

Mantri Tondo di Distrik Kampak Trenggalek, waktu itu pajak masih ke Solo.

2. R.Malangdiwirjo, Mantri Sarang burung Munjungan Trenggalek, pajak masih ke Solo.

R.Kromodiwirjo, mempunyai putera 3 orang yaitu :


1. R.Karmonodiwirjo, Pengageng Merdiko Distrik Panggul. Dibunuh oleh Belanda, dipotong menjadi 3 bagian dibuang secara terpisah (konon karena kesaktiannya, supaya tidak hidup kembali). Kepalanya ditancap ditonggak diletakkan diperempatan jalan, lehernya dibuang ke sungai hanyut sampai ke laut selatan , sedangkan badannya dikubur di Barat Sungai Nggayam Panggul. Beliau tidak mempunyai putera atau tidak jelas keterangannya.


2. R.Brontodiwirjo, Demang Senden Kampak, Trenggalek, mempunyai putera
1 orang yaitu, R.Kromodiwirjo (nama nunggak semi), juga sebagai Demang Senden Kampak, Trenggalek.


3. R.Karjodiwirjo, Demang Bendo Kampak, Trenggalek, berputera 7 orang yaitu,

1.R.Prawirodiwirjo, 2.R.Padmodiwirjo, 3.R.Hargodiwirjo, 4.Rr.Soetarminah, 5.R.Notowasito, 6.R.Djora /Mudjio, 7.R.Soewadi /Poedjodiwirjo.

R.Kromodiwirjo (nama nunggak semi) mempunyai isteri R.AyuSoemirah berputera 11 orang yaitu,
1.R.Soenito Hardjo
2.R.Samad Prawiro Sentono
3.Rr.Oemi
4.R.Moeradji Sastrodipuro/ Sastrodiwirjo
5.R.Koesno/ Soepardi (kembar)
6.R.Maliat Wido Sadjono (kembar)
7.Rr.Soetjilah
8.R.Soekari
9.R.Soedjadno
10.R.Soekandar
11.Rr.Soeistilah

1).R.Soenito Hardjo,

mempunyai putera 5 orang yaitu,
1.R.Rustamgushadji /Harminto, 2.R.Haripi (Makasar), 3.Rr.Djami Sriani, 4.Rr.Rukmini, 5.R.Hadi (Surabaya).


2).R.Samad Prawiro Sentono /Soewadji mempunyai istri Muinah,

berputera 6 orang yaitu,
1.Rr.Suwarni, 2.R.Sunari, 3.Rr.Murtini, 4.Rr.Murdiyah, 5.R.Mursidi, 6.Rr.Sri.


3).Rr.Oemi x Muljono

berputera 4 orang yaitu,
1. R.Mulyono Slamet, 2.R.Rustam Adji, 3.Rr.Srimulyani, 4.Rr.Ruby.


4).R.Moeradji Sastrodipuro,

berputera 3 orang yaitu,
1.R.Fatah /Totok, 2.Rr.Ni, 3.R.Hadi.


5).R.Koesno /Soepardi x Siti Suwarni

berputera 11 orang yaitu,
1.Rr. Kustinah, 2.Rr.Suratmini, 3.R.Sunjoto, 4.R.
Suprapto, 5.Rr.Kustijah 6.R.Suharsono,

7.R.Suhardi /Djoko, 8.R.Sumedi, 9.R.Sudradjat, 10.R.Suhartono, 11.R.Suharikusno.


6).R.Maliat Widosadjono

mempunyai putera 1 orang yaitu,

1.Rr.Watini


7).Rr.Soetjilah, tidak mempunyai putera.


8).R.Soekari mempunyai istri Soekarmi, berputera 3 orang yaitu,
1.Rr.Winarti, 2.R.Timbul Sudjoko Wahono, 3.R.Suko Wahyudi.

9).R.Soedjatmo, Tidak mempunyai putera (?).

10).R.Soekandar, Tidak mempunyai putera (?).

11).Rr.Soeistilah, Tidak mempunyai putera (?).


Selasa, 12 Februari 2013

Kenangan di masa kecil.


KENANGAN DI MASA KECIL

Ada beberapa sepupu keponakan saya laki laki yang umurnya hampir kurang lebih sepantar, antara lain : Tulus (Turen), Teguh (Jakarta), Gatot (Bali) dan Mokik (Bali). Khusus untuk Teguh, anak keponakan saya dari “Mbakyu” atau sepupu saya Murtini. Kenapa Teguh, karena setiap ketemu dengan saya di Jakarta atau melihat foto Ibu yang dipanggilnya YangTi, dia selalu sangat terkesan dengan beliau dan sampai sampai semangat sekali bercerita. Entah apa yang ada dibenak Teguh dimasa kecil itu atau Teguh yang sekarang sudah sama sama tua sehingga dia sangat terkesan dengan Ibu sampai kenangan itu melekat keras dibenaknya.

Saya masih ingat ketika kami masih kecil kecil, menjelang lebaran Ibu sudah membeli segulung segulung kain dijahit sendiri untuk pakaian lebaran anak dan cucu cucunya (cucu kandung belum ada). Biasanya saya dikembar dengan Tulus, Teguh sampai juga ke Mokik dan Gatot anak Yu Siti, dan yang perempuan, mbak Nik, mbak Win serta Win Jember kakak Teguh (dulu kami memanggilnya Serok nama julukannya, sedangkan mbak Win, Klumpuk/Pupuk dan mbak Nik, Mentil).

Aku lupa waktu itu Nanik adik Teguh sudah lahir atau belum. Walaupun sudah tak tinggal serumah,Ibu selalu menengok Yu Mur. Saya sering diajak Ibu ke Cepokomulyo di Kepanjen menjenguk Mas Rawi dan Yu Mur. Mulai dari rumah yang di Pertanian sampai dirumah yang masuk gang entah jalan apa namanya, apakah itu jalan Cepokomulyo, saya lebih senang ketika Mas Rawi masih tinggal dirumah Pertanian itu karena di depan atau agak jauh disampingnya sekali waktu dilewati oleh spoor (kereta api). Bila kereta api lewat, aku berlari lari di pematang supaya dapat melihat lebih dekat, kadang aku melambai lambaikan tangan (ternyata waktu kecil “norak” juga ya). Jes ejes..jes ejes… tuiiiiiiuit ! teriaknya.

Sekali waktu kami juga pergi ke Selecta pemandian wisata yang ada di Kepanjen. Penglihatan waktu kecil dengan setelah besar sangatlah berbeda. Dulu saya melihat jembatan yang ada disamping atau menuju Pemandian Selecta terasa seram sekali, beda
dengan sekarang. Barangkali dulu tubuh kita juga masih kecil. Perlu diingat bahwa Yu Mur ini anak angkat dan keponakan dari pihak Bapak putra dari pakDe atau Kangmasnya Bapak yaitu R.Samad Prawiro Sentono (Soewadji). Ibu tidak pernah mengajarkan kami hal hal yang aneh tentang mereka dikarenakan bukan saudara dari pihak Ibu, semua diperlakukan sama oleh Ibu, itu kehebatan beliau. Bila membuatkan pakaian selalu dikembar oleh Ibu dan sekali lagi itu dijahit sendiri oleh beliau. Mbak Win dan Win Jember, sedangkan saya kurang lebih sama dengan Teguh,Tulus,Gatot seingat saya waktu itu masih di Lumajang karena Mas Di bapaknya menjabat DanRamil disana (?) dan Mokik di Sumberpucung, ada juga adiknya Mokik, Munif namanya entah berada dimana sekarang. Tentu saja saya merasa lebih dekat dengan Tulus atau Teguh dimasa kecil daripada yang lainnya karena tempat tinggal mereka tidaklah begitu jauh dengan rumah kami.

Saya mengalami juga keharusan bangun pagi pagi, kelas 2
SMP saya laki
laki masih belanja sayur ke pasar. Itu adalah cara mendidik Ibu kepada kami semua. Hal ini tentu tidak berlaku bagi Teguh tetapi pasti berlaku bagi ibunya (yu Mur) dan kakak kakak yang lainnya.
Saya merasa dekat dengan Yu Mur atau Yu Yah tidak layaknya seperti sepupu saya. Apalagi Tulus (anak Yu Yah), sempat tinggal datang pergi bertahun tahun bersama saya sejak saya bujangan sampai mempunyai anak. Trinil (adik Tulus) juga sempat tinggal bersama kami di Jakarta. Dari dulu kemana mana aku lebih sering pergi bersama Tulus. Semasa kecil Bapak Ibu bila pergi selalu diajaknya Tulus, kadang dengan celana monyet yang sama denganku (lihat foto foto lama Ayah dan Ibu). Waktu itu mas Ngadiman masih tinggal serumah dengan Bapak Ibu di rumah Besar di jl.Kantor, Turen.

Kami sempat berpisah lama dengan keluarga Yu Mur setelah mereka pindah dari Kepanjen ke Jember, tetapi sewaktu kelas 1
SMA saya bersama Tulus disuruh Ibu mencari Win ke Sumberwadung menginap -/+ 2 hari disana. Entah, lupa saya bagaimana kami berdua bisa sampai ke Jember, kami mencari pos polisi dan menumpang telpon, waktu itu telpon masih model diputar putar dan pakai operator. Ketika itu suasana masih rawan setelah G30S PKI, kami berdua menunggu di pos Polisi dan dijemput dengan truk suruhan nak Mukasim untuk menuju ke rumah mereka di Perkebunan. Kesempatan berikutnya sekali dua, saya juga mengunjungi Yu Mur di Jember,anak anak Win masih kecil kecil diasuh oleh Yu Mur di Jember masih dirumah lama karena Win ada di Perkebunan.

Ketika itu ada kesempatan gratis naik Bus Akas karena kondekturnya adalah teman saya sendiri yang kebetulan juga bernama Teguh alm. Anak Pak Parto Roti (semoga sahabatku Teguh mendapatkan tempat yang enak disana). Saya tidak tahu persis kenapa Teguh waktu itu menjadi kondektur Bis, karena ayahnya yang mempunyai pabrik roti terbesar dan terkenal di Turen kala itu. Tentu saja kesempatan kesempatan seperti itu saya ambil untuk mengunjungi kakak saya yu Mur, karena waktu itu saya tidak mempunyai banyak uang. Semoga sedikit tulisan ini dapat membuka kenangan dimasa kecil walaupun kita hanya sebentar berkumpul. Agama kita menganjurkan banyak banyak silaturohim, apalagi dengan saudara.

Jakarta, 9 Feb 2012.
RMHS


Pakai payung daun lumbu Belanda matanya jadi “Siwer”.



Eyang Rais ayah Ibu ini terkenal mempunyai kelebihan (kesaktian). Ketika rumah Ayahanda R.Soekari dibakar Belanda (kalau tidak salah yang di Sumberpucung), Bapak dikejar kejar Belanda dan mengungsi sekeluarga, ketika Belanda sudah dekat, masing masing oleh Eyang Rais diberikan daun Lumbu semacam daun Bentul yang berdaun lebar untuk payung sehingga Belanda matanya jadi “siwer” atau tidak bisa melihat bapak sekeluarga. Akhirnya perjalanan dilanjutkan dan menyeberangi kali (sungai) Laor. Waktu ramai ramai menyeberangi Kali Laor terjadi keanehan, Winarti kakak saya yang ketika itu masih kecil, seperti ada yang menggendong dan tiba tiba sudah ada diseberang sungai. Dalam pengungsian itu ikut juga 2 keponakan Bapak yang diambil anak angkat yaitu Murtini dan Murdiyah (putra putri kangmasnya Bapak yaitu R.Samad Prawiro Sentono, yang juga terkenal kesaktiannya.

Ada lagi anak angkat Bapak Ibu yaitu Anik Warniwati (anak Yatim piatu, yang setelah tua nanti membuat banyak cerita...., sayangnya Bapak dan Ibu sudah tiada).

Diperjalanan, tiba di satu dusun tiba tiba disambut oleh seorang tua yang sudah mengetahui nama Ayahanda Soekari dengan menyebut : “ oh Jebeng Soekari silahkan masuk, Jebeng. ” (demikian kata beliau dalam bahasa Jawa). Dalam masa pengungsian itulah mbak Win yang masih kecil itu menjadi orang pintar yang diberikan  kelebihan oleh Alloh SWT. bisa menebak apa yang bakal terjadi (weruh sakdurunge winarah). Akhirnya banyak orang yang datang ingin tahu apa yang akan terjadi. Setelah aman Ayahanda kembali ke Sumberpucung, ternyata dirumah masih ada yang tertinggal dan tidak ikut terbakar yaitu 2 Keris dan 1 Tombak, sekarang 1 Keris Luk 13  saya pegang dan 1 Tombak kudup Melati dipegang oleh R.Suko Wahyudi ( adik kandung saya ) dan, masih ada satu Keris lagi tidak tahu ada dimana.

Waktu almarhum Mas Dari masih ada sempat menanyakan kepada saya. Ayahanda R.Soekari terkenal di Sumberpucung karena membuka pasar Sumberpucung yang ketika itu ada pohon Beringin besar yang “tidak bisa” ditebang, setiap orang yang menebang meninggal dunia, akhirnya Ayahanda turun tangan menyuruh beberapa orang untuk menebangnya dan Alhamdulillah selamat, akhirnya dibukalah pasar Sumberpucung.Ayah
juga terkenal pandai menaiki Alun (ombak yang tinggi) bila mandi di Pantai selatan, yang sering diceritakan Ibu adalah pantai Prigi. Suatu kali, suami dari Bude Juru (Rr.Oemi) kami memanggilnya mbah Djarot pergi ke Pantai Selatan ya Pantai Prigi, diperingatkan kalau disana jangan singsot singsot (bersiul), pulangnya mulut mbah Djarot mencong seperti orang kena stroke. Setelah ditanya oleh bude Djuru ternyata tadi bersiul siul di Prigi dan seperti ada yang napuk (menampar mulut mbah Djarot) yang akhirnya jadi mencong tersebut. Mbah Djarot ini ceritanya terkenal agak berangasan seperti Aryo Penangsang barangkali, gagah serta mempunyai kumis yang tebal dan bersuara lantang. Ada cerita lain nenek moyang yang membuat rumah dari tulang tulang ikan besar serta mempunyai piaraan 2 Harimau putih juga masih di sekitar Prigi.


Jakarta, medio 2009.
RMHS.

Salah satu kesaktian Pak De ku



Ada cerita Ibu tentang salah satu ilmu linuwih dari pakde Prawiro Kangmasnya Bapak.
Ketika itu Bapak ada urusan penting sehingga Pakde harus rawuh ke Sumberpucung,
jadi diutuslah seseorang menjemput untuk ngaturi beliau di Kesamben Blitar. Pakde bilang ke pesuruh itu untuk pulang terlebih dulu. “ Wis kowe balio dhisik mengko dak susul ” (sudah kamu pulang dulu nanti saya menyusul ).

Ceritanya, Pakde Prawiro sudah lama datang dirumah tetapi yang disuruh belum sampai. Transportasi waktu itu adalah spoor  (kereta api). Ternyata setelah sampai dirumah si pesuruh kaget melihat pakde sudah datang duluan. Lantas pelan pelan cerita, ketika ia berada diatas sepor, rel persis sejajar dengan jalanan mobil, ia melihat Pakde berjalan kaki dan kecepatan jalannya melebihi kereta api yang ditumpanginya. Ia lihat berulang ulang seperti tak percaya, sampai jalan kereta dan jalanan umum terpisah dan Pakde tak terlihat lagi. Ee.. ternyata benar apa yang dilihatnya tadi dari kereta api, lha pakde malah sudah disini datang lebih dulu.

Pakde ini adalah ayah dari yu Mur dan yu Yah yang diangkat anak oleh bapak ibu, yang terkenal dengan kesaktian “Sepi angin” nya.

Jogokarso, Desember 2010

Senin, 11 Februari 2013

Anak Turunannya Dilarang Makan Ikan Mongsing.



Ada cerita tentang Ibu, bahwa kami anak turunnya tidak diperbolehkan memakan ikan Mongsing, yang sampai saat ini kami tidak mengetahui ikan yang mana ikan Mongsing tersebut. Cerita ini kami juga tidak mengetahui betul tidaknya karena ini menurut penuturan dari Raden Panji Surjoasmoro disalin sesuai kata kata dari tulisan aslinya.
Sejarah Pangeran Pangarangan Sumenep. Mulai pertama yang menjadi Pangeran Pangarangan Sumenep. Seperti yang tersebut didalamnya.

Ke 1
R.A.Pangeran Suroadiningrat.
Ke2
R.A.Pangeran Suroadiwidjojo.
Yang ke3
R.A.Pangeran Suroadilogo yang tida suka menjadi Pangeran di Pangarangan tetap yang sulung (tuwa).

Lantas R.A.Pangeran Suroadilogo berkawin dengan puteri putera dari R.A.Pangeran Tjokronegoro desa Mulukan Sumenep. Lantas puterinya hamil dapat 6 bulan, R.A.Pangeran Suroadilogo berpamitan sama puterinya akan pukul Negara Lombok. Kalau sudah aman di Lombok akan kembali lagi kesini; lantas puterinya menyahut dengan ikhlas hati dan bilang: “Ya Kanda kalau Negara Lombok sudah aman lekas kembali.” R.A.Pangeran Suroadilogo bilang “Baik.” Setelah R.A.Pangeran Suroadilogo meninggalkan tanah Pangarangan berjalan sampai dipesisir Kalianget Sumenep timur; lantas disitu naik perahu, setelah sampai diantaranya pelabuhan Situbondo dan Banyuwangi, Ia nya melompat dari itu perahu sebab perahunya gondjeng djadi R.A.Pangeran Suroadilogo ada hawatir, untung ketemu sama ikan Mongsing (?).

Lantas tanjak bertanjak.      
Ikan Mongsing tanjak: “Tuanku akan pergi kemana ?”
Djawab R.A.Pangeran Suroadilogo : “Saja mau pergi ke Negara Lombok, akan pukul Negara Lombok.”
“Tuanku mari silahkan naik di hamba punja punggung,hamba antarkan di Negara Lombok; kalau Negara Lombok aman, mari hamba mapak di pesisir Lombok.”

R.A.Pangeran Suroadilogo bilang pada ikan Mongsing: “Boleh.” dan membilang banyak terimakasih. Setelah Negara Lombok sudah aman lantas R.A.Pangeran Suroadilogo pergi ke pesisir Lombok menemui ikan Mongsing itu terus diantarkan di pesisir pelabuhan Kalianget Sumenep timur;

Setelah disitu keduwa-duwanja  berbitjara dan kasi ingat pada R.A.Pangeran Suroadilogo begini : “ Besok seturun turunja putera tuanku tida boleh makan ikan Mongsing,tetapi kalau sampai ketelandjur makan,hamba kasih tanda putih (tjiri bule)”. Setelah itu abis bitjara ikan Mongsing lantas pamitan. R.A.Pangeran Suroadilogo bilang “Baik” dan membilang 1000 banjak terima kasi lantas terus pulang kerumahnja menemui isterinja dengan gembira, setelah kira2 ada 1 bulan lamanja memberi tahu pada isterinja begini : “Dinda,saja dan dinda dan seturun turun saja sama dinda dan seterusnja tida boleh makan ikan Mongsing,sebab saja dapat pertulungan dari ikan Mongsing waktu pukul Negara Lombok dengan slamat pergi dan pulangnja kesini; dan ikan Mongsing bilang sama saja begini: Siapapun putera puterinja dan seturun turunja sampai ada jang keliru makan ikan Mongsing,hamba kasi tanda putih (tjiri bule). Setelah R.Sukarman umur 15 tahun R.A.Pangeran Suroadilogo meninggal dunija (sedo).

Pendek kata,
Mulanja nak Sukari dan sekeluarga berturun turun tida boleh makan ikan Mongsing,yaitu asal mulanja dari Ing Jang (embah) R.A.Pangeran Suroadilogo,`jang sudah dapat pertulungan dan pembitjaraan ikan Mongsing dengan R.A.Pangeran Suroadilogo waktu Ija pergi dan pulangnja ke negeri Sumenep.

Pendek,
Nak Sukari sekeluarga lan seturun turunipun ampun ngantos ndahar selam Mongsing,ndjalaran saking Ing Jang R.A.Pangeran Suroadilogo.


Turen,11-12-1961
Tanda tangan jang menulis

R.P.Surjoasmoro

Dikutip dari tulisan tangan Raden Pandji Surjoasmoro Oleh Timbul Sudjoko Wahono .

Keturunan Ke 7



Keturunan 7.


K7a. R. Toni bin Rustam Gushadji bin Soenitohardjo bin Kromodiwirjo 

K7a. Suharini binti Rr Djami Sriani Binti R Soenito Hardjo bin Kromodiwirjo, mempunyai putera :
       1. Eko Hartono ( Tulung agung )
       2. Triana Yuli A
       3. Nur Indah A
       4 Farida Yuli E

K7a. Haryono ( alm ) bin Rr Djami Sriani Binti R Soenito Hardjo bin Kromodiwirjo, mempunyai putera :
        1. Dian Esika
        2. Rio Aji W
        3.Ogi (Alm )

K7a. Hartoyo bin Rr Djami Sriani Binti R Soenito Hardjo bin Kromodiwirjo

K7a. Haryanto bin Rr Djami Sriani Binti R Soenito Hardjo bin Kromodiwirjo, mempunyai putera :
         1. Rino


K7b. R. No bin Sunari bin Samad Prawiro Sentono bin Kromodiwirjo

K7b. R. Puguh bin Sunari bin Samad Prawiro Sentono bin Kromodiwirjo

K7b. Rr. Umi binti Sunari bin Samad Prawiro Sentono

K7b. Winarsih (Jember) binti Rawi Santoso (suami dari Rr. Murtini binti Samad Prawiro Sentono) mempunyai suami Mukasim berputra 5 orang,
         1. Endang (Jember)
         2. Endah (Bandung)
         3. Dian (Jember)
         4. Mike (Jember)
         5. Argo  (Jember)

K7b. Teguh Wiyono (Jakarta) bin Rawi Santoso (suami dari Rr. Murtini binti Samad Prawiro Sentono) mempunyai istri Lia berputra 3 orang,
           1. Fika Wimala
           2. Sinta
           3. Sindy

K7b. Winanik (Surabaya)  binti Rawi Santoso (suami dari Rr. Murtini binti Samad Prawiro Sentono) mempunyai suami Bambang berputra 2 orang,
          1. Eka  (Surabaya)
          2. Diah (Kalimantan)

K7b. Tulus Djatmiko (Turen) bin Ngadiman (suami dari Rr. Murdiyah binti Samad Prawiro Sentono) mempunyai istri pertama Ayu berputra 3 orang,

K7b. Sunaringsih (Turen) binti Ngadiman (suami dari Rr. Murdiyah binti Samad Prawiro Sentono) mempunyai suami Supadi berputra 3 orang,

K7b. Enis suciati (Turen) binti Ngadiman (suami dari Rr. Murdiyah binti Samad Prawiro Sentono) mempunyai suami Hari berputra 2 orang,

K7b. Nunik Wjayanti (Turen) binti Ngadiman (suami dari Rr. Murdiyah binti Samad Prawiro Sentono)

K7b. Titik Setianingsih (Gondanglegi) binti Ngadiman (suami dari Rr. Murdiyah binti Samad Prawiro Sentono)  mempunyai suami Beny berputra 1 orang,
         1.Dimas

K7b. R. Tias Astoko bin Mursidi bin Samad Prawiro Sentono bin Kromodiwirjo

K7b. R. Bambang bin Mursidi bin Samad Prawiro Sentono bin Kromodiwirjo

K7b.
Sujarwadi (Blitar) bin Musiran (suami dari Rr. Sri binti Samad Prawiro Sentono)  mempunyai istri  Siti berputra 2 orang, 

        1. Nadhia
          2. Retno

K7b.
Mujiharto (Tangerang)  bin Musiran (suami dari Rr. Sri binti Samad Prawiro Sentono)  mempunyai istri Sri Hartati (Uci) berputra 3 orang,
     1. Bayu Al Rochmanto
     2. Filza Elok Rachima
     3. Taufan Aryo Wicaksono

K7c. Suprowo(Jakarta) bin Danu (suami dari Srimulyani binti Mulyono) berputra,

K7e. Rima Sulendro bin Sudaryo (suami dari Rr. Kustinah binti Koesno / Supardi) berputra,

K7e. Nugroho bin Sudaryo (suami dari Rr. Kustinah binti Koesno / Supardi) berputra,

K7e. Siswonowati binti Sudaryo (suami dari Rr. Kustinah binti Koesno / Supardi) berputra,

K7e. Endang binti Sudaryo (suami dari Rr. Kustinah binti Koesno / Supardi) berputra,

K7f. Nugroho (Jakarta) bin Achmad Mugalih (suami dari Rr. Suratmini / Eni binti Koesno/Supardi)

K7f. Kurniawati(Jakarta) binti Achmad Mugalih (suami dari Rr. Suratmini / Eni binti Koesno/Supardi)

K7f. Budianto(Jakarta) bin Achmad Mugalih (suami dari Rr. Suratmini / Eni binti Koesno/Supardi)

K7f. Widyawati(Jakarta) binti Achmad Mugalih (suami dari Rr. Suratmini / Eni binti Koesno / Supardi)

K7f. Joko Praseno (Jakarta) bin Achmad Mugalih (suami dari Rr. Suratmini / Eni binti Koesno / Supardi)

K7f. Saraswati(Jakarta) binti Achmad Mugalih (suami dari Rr. Suratmini / Eni binti Koesno / Supardi) mempunyai suami Jeffri berputra 2 orang,
         1. Indraji Rastrapati
         2. Indrawan

K7f.Seto Dharmawan (Jakarta) bin Achmad Mugalih (suami dari Rr. Suratmini / Eni binti Koesno / Supardi) mempunyai istri Dian berputra 2 0rang,
         1. Brahmandito
         2. Davindra

K7f. R.Budiharso (Jakarta) bin R.Suharsono bin Koesno / Supardi bin Kromodiwirjo mempunyai istri Lis, berputera 1 orang,
         1. R.Bayu Malibari

K7f. Rr.Triani Diaresmi (Jakarta) binti R.Suharsono bin Koesno / Supardi mempunyai suami Ronald berputera 2 orang,
         1.Maylavia, 2.Vigo

K7f. R.Seno Hadi Hartono (Jakarta) bin Suhardi/Joko bin Koesno / Supardi bin Kromodiwirjo

K7f. R.Gesit Wibowo (Jakarta) bin Suhardi/Joko bin Koesno/Supardi bin Kromodiwirjo

K7f. Rr.Nining (Semarang) binti Sumedi bin Koesno / Supardi mempunyai suami Haris berputra 1 orang,
          1.Tidak jelas

K7f. Rr.Nia  (Semarang) binti Sumedi bin Koesno / Supardi mempunyai suami Imam berputera 2 orang,
          1.Kiki

          2.Sasha

K7f. Rr.Indrasari Wardhani (Jakarta) binti Sudrajat bin Koesno / Supardi mempunyai suami Bobby Agustiara Tamaela Watimena

K7f. R. Agung Surya Wardhana (Jakarta) bin Sudrajat bin Koesno / Supardi bin Kromodiwirjo mempunyai istri Irma Octovianita

K7f. Rr. Werdi Sutisari (Jakarta) binti Suharikusno bin Koesno / Supardi mempunyai suami pertama Isam Tsabano berputera 2 orang,
          1.Dania, 2 Virash
mempunyai suami kedua Andi berputera 1 orang,
          1. Arya

K7f. R. Aji Kusbandono(Jakarta) bin Suharikusno bin Koesno / Supardi bin Kromodiwirjo mempunyai istri

K7g. Diah Ekawati Nicotiana Wardani (Turen) binti Suhartadi (suami dari Rr. Winarti binti Soekari) mempunyai suami Gaguk Puji Saroso berputera 2 orang,
           1. Devid Stevan Laksamana Perwirayuda
           2.
Firman Nur Andika Priyambada

K7g. Andrea Dwi Cahyo bin Suhartadi (suami dari Rr. Winarti binti Soekari) mempunyai istri Susiana berputera 2 orang,
           1. Dito Herlambang
           2. Kintania Larasati

K7g. Tri Indyah Meridiana Niagawati (Jakarta) binti Suhartadi (suami dari Rr. Winarti binti Soekari) mempunyai suami Hengky berputra 1orang,
           1. Galih Rizky Ramadhan.

K7g. Endah Wijayanti Herwiyana Dewi (Jakarta) binti Suhartadi (suami dari Rr. Winarti binti Soekari) mempunyai suami Marsudi berputera 2 orang,
            1. Raditya Wahyu Cakra Wardana
            2. Ayu Yunita Wardani

K7g. R.
Bayu Yuda P (Jakarta) bin Timbul Sudjoko Wahono bin Soekari bin Kromodiwirjo mempunyai istri Diah Ayu Titis H berputera 2 orang,
           1. R. Bathara Alirasya D
           2. R. Bryan Rafadwibasya Z

K7g. R. Rahgutomo P N (Jakarta) bin Timbul Sudjoko Wahono bin Soekari bin Kromodiwirjo mempunyai istri Ditri D berputera 2 orang,
            1. R. Abdilah H
            2. Alesya Hanim

K7g. R.
Yuka Gebrag B (Jakarta) bin Timbul Sudjoko Wahono bin Soekari bin Kromodiwirjo mempunyai istri Anis Nur Saptanty berputrera 2 orang,

           1. R. Kenzi Anka B 
           2. Elianoor Zianka B

K7g. R. Jalu Ajisoko (Jakarta)  bin Suko Wahyudi bin Soekari bin Kromodiwirjo

K7g. Rr. Garnis Silandini (Jakarta)  binti Suko Wahyudi bin Soekari

Bukan Kopral Jono

BUKAN KOPRAL JONO


Terletak antara Sumberpucung dan Blitar di Desa Mbriyut ada saudara Ibu, kami memanggilnya Mbah Nun, entah urut urutannya darimana tapi disebut sebut Mbah Nun adalah adik dari mbah Brojo jadi keduanya adalah Pakliknya Ibu. Mbah Nun banyak mempunyai putra antara lain yang saya ingat adalah :

   -Bulik Sukati kalau nggak salah, tapi kami memanggilnya Bulik Jono karena menikah dengan Jono (Pak lik Jono ini seorang Militer dan tinggal di Rampal komplek Militer di Malang, Bukan Kopral Jono yang ada di lagu itu lho, kebetulan kok pas).

Beliau mempunyai putra banyak, yang saya ingat adalah Hari, ada juga masnya Hari (Wid ?) dulu tinggal di Pagak, Wajak Malang selatan. Orangnya gagah bercambang. 

   -Paklik Nari, tinggal di Mbriyut
   -Bulik Winarsih kalau nggak salah, kembarannya
  -Bulik Sus dan mungkin masih ada yang lain lagi saya tidak mengetahui. 

MBah Nun ini katanya terkenal orangnya kereng (galak) dan keras, tetapi dengan Ibu tidak begitu, malah dengan adik saya Yudi bisa cerita ndongeng serta berbagi rokok bila Yudi mengunjunginya. Waktu itu Yudi masih SMA di Malang. Terakhir saya mengunjungi beliau ke Mbriyut kira kira antara Th 85 an bersama Ibu, saya masih pakai mobil Kijang kotak hitam merah. 

Ditanah Mbriyut yang luas ini seolah ada riwayat tetapi oleh Ibu tidak boleh kami bertanya dan kami tidak berminat untuk menanyakannya.

Kami tidak pernah berkomunikasi dengan putra putri Mbah Nun ini, juga dengan putra putri Bulik Jono sampai sekarang. Pada waktu itu lupa tahun berapa, Hari ingin mencari pekerjaan di Jakarta, surat lamaran diberikan kepada Mbak Win (Winarti). 


Hari sempat mampir kerumah saya di Cipete. Beberapa lama saya pulang ke Malang diajak oleh Ibu ke Mbriyut. Alhamdulillah Hari sudah bekerja di daerah Pandaan, kalau nggak salah saya diberi kartunamanya. Waktu saya ke Malang menengok Bayu (anak saya yang pertama kuliah di Malang), Ibu saya sudah sedo (meninggal),saya masih sempat mengunjungi Bulik Jono di Rampal. 

Terakhir saya bersama Mbak Siti yang ada di Bali putra bude Init dan Ibunya Budi Istri mas Iskak, sama sama berkunjung ke Bulik Jono, waktu itu Yu Siti mengantarkan putranya kalau nggak salah urusan kuliah di Malang dan katanya Yu Siti ini sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu dengan Bulik Jono, mumpung ada di Malang kepengin ketemu. 

Dirumah ada Bulik Jono dan putrinya yang perempuan yang suka menerima jahit baju. Informasi terakhir dari keponakanku Tinung (2012) rumah mbah Nun ini masih ada bahkan ada rumah baru lain disampingnya, tetapi menurut penduduk disitu penghuninya tidak pernah kelihatan. Entah karena sibuk atau jauh atau karena apa, putra putri Bulik Jono tidak pernah menghubungi kami. Cerita ini saya tulis barangkali anak cucu kita suatu saat bertemu, dan ternyata memang masih ada hubungan saudara, tidak “kepaten obor” kata orang Jawa.

Mudah mudahan Insyaalloh tidak adanya hubungan ini karena memang jauh dan tidak pernah bertemu saja. Harapannya adalah hubungan baik dan terjalin silaturohim.

RMHS.


Selasa, 15 Januari 2013

Asal usul Dari Eyang Putri R.Ayu Soemirah

Asal usul Dari Eyang Putri R.Ayu Soemirah

Dari R.Tumenggung Setjodiningrat Bupati Pekalongan, yang juga berasal dari Bayat.

I. R.Atmo Seputro, Mantri Kabupaten Mbatang, berputera 1 orang yaitu,
   1. R.Atmo Widjojo, Jaksa Trenggalek mempunyai putera 6 orang yaitu,
      1). R.Kerto Atmodjo
      2). R.Karjo Atmodjo, Wedono Guru Pacitan
      3). R.Poerwo Atmodjo, Merdiko
      4). R.Merto Atmodjo, Merdiko
      5). Tidak jelas menjadi isteri Guru santri
      6). R.Nganten Moertiningrum isteri x R.Mas Tumenggung Mangun Negoro, Bupati  Trenggalek.

I.1.1). R.Kerto Atmodjo, mempunyai putera 6 orang yaitu,
          1. R.Kerto Dihardjo
          2. R.Marto
          3. R.Bagindo Lut
          4. Tidak jelas, Mantri lumbung Kertosono
          5. R.Nganten Roes, isteri x Tubagus Rengulu Bogor,  Nganjuk
          6. Tidak jelas, isteri x Asisten Wedono Sanan Blitar

I.1.2). R.Karjo Atmodjo, mempunyai putera 8 orang yaitu,
          1. R.Danu Atmodjo
          2. R.Nganten Karjo Diwirjo
          3. R.Nganten Tjokro Hardjo
          4. R.Nganten Setro Redjo
          5. R.Nganten Wignjodipuro
          6. R.Nganten Soemirah mempunyai suami  x R.Kromodiwirjo
          7. R.Nganten Soero Prawiro
          8. R.Sosro Atmodjo.

4 Putra lainnya, 3.R.Poerwo Atmodjo, 4.R.Merto Atmodjo, 5.Istri Guru Santri dan 6.R.Nganten Murtiningrum, tidak jelas keterangannya.

Ciri Wanci Lali Ginowo Mati



Ciri wanci lali ginowo mati.

Bethari Durgo
Tabiat dan watak memang susah diubah
Dewi Pramoni yang berparas cantik jelita itu tiba-tiba terbangun dari
semedinya ketika ada sinar terang benderang,    ternyata dihadapannya
sudah berdiri Bethoro Guru yang  ditemani oleh Bethoro Kolo dan Dewi Umayi yang berujud Raseksi tetapi berhati luhur dan berbudi. Sang Raja Dewa Dewi dari Kahyangan itu menegurnya :

“ Wahai Dewi Pramoni, aku sudah mengerti maksud dan tujuanmu melakukan tapa brata tak henti-hentinya sehingga penghuni Kahyangan menjadi gerah. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu sebagai permaisuriku, karena sebagai pemimpin para Dewa aku harus mempunyai seorang istri yang mempunyai watak tabiat dan budi yang luhur. Kamu memang mempunyai paras yang cantik jelita dan menarik, tetapi hatimu dan watakmu tidak secantik rupamu.” “ Duh Sang Bethoro,” jawab Dewi Pramoni. “Hamba telah berusaha untuk mendapatkan keinginan hamba ini supaya dapat mendampingi pukulun dengan bertopobroto berhari-hari ternyata sia-sia.”

Akhirnya Bethoro Kolo usul kepada Bethoro Guru, apakah setuju apabila badan wadag Dewi Pramoni yang cantik ditukar dengan tubuh Dewi Umayi yang berujud Raksasa perempuan. Bila dengan tubuh yang tidak cantik lagi Dewi Pramoni dapat merubah sifat dan wataknya yang jelek itu, Bethoro Guru akan mengabulkan permintaannya. Dewi Pramoni setuju. Dengan kesaktiannya Sang Bethoro Gurupun merobah keduanya. Dewi Umayi berubah menjadi cantik jelita sedangkan Dewi Pramoni berubah ujud menjadi Raseksi yang berbadan besar, bermuka menyeramkan dan giginya bertaring menakutkan.

Tabiat dan watak memang susah diubah.
Ternyata Dewi Pramonipun tidak pernah berubah. Watak dan tabiatnya yang buruk akhirnya sama dengan ujud dan rupanya yang juga menjadi buruk. Akhirnya malah mengumpulkan para Gendruwo, syetan, thethekan, dhedhemit gundhul pecengis dan lainnya serta menjadi Ratu dari para lelembut itu dengan julukan “ Bethari Durgo “ dan sekarang bersemayam di istananya Setro Gondomayit..

JAKARTA, 8 Desember 2010. dari kisah pewayangan Bethari Gedheng Permoni.

RM Haryo SEMPRUL.
Sebagai peringatan keluarga yang selama ini dipecah belah oleh anak angkat Ayah Ibuku. Kini semua telah mengerti dan selamat dari Sang Bethari yang sebetulnya tidaklah cantik jelita. Alhamdulillah. Ciri wanci lali ginowo mati, sifat dan watak yang buruk susah sekali dirubah, hanya bisa berubah setelah mati.

Wong Jowo ilang Jawane



Wong Jowo ilang Jawane.


Kajawan, ora nJawani.
Sudah lama saya amati dan sangat memprihatinkan bahwa saya sangat khawatir lambat laun orang Jawa akan kehilangan jati dirinya, yaitu melupakan adat budayanya sendiri budaya leluhur yang adiluhung. Terutama beberapa kaum muda Jawa, apalagi yang hidup dikota kota besar telah terkontaminasi dengan budaya luar yang sok modern,terkadang sok santri dan takut dibilang tidak ngetrend, tidak populer dan kampungan bahkan memang tidak tahu sama sekali. Ada beberapa  orang tua sudah enggan untuk memberikan nasehat atau mengingatkan anak anak muda seperti kami dulu. Coba perhatikan umumnya pada beberapa pasangan muda jaman sekarang, cara mendidik anak anaknya, banyak diantara mereka enggan menasehati dan memberi contoh yang baik kepada anaknya sehingga hal tersebut selain dapat membahayakan diri si anak tersebut juga kadang kala menyusahkan orang lain. Beberapa orang tua jarang memberikan pengertian apa maksud dari pelarangan pelarangan yang diberikannya, begitu juga dengan maksud kenapa kita harus berdoa, jika doa di bunyikan hanya sebagai lafal dan tidak diberikan pengertian yang hakiki terhadap maksud dan tujuan berdoa maka kita akan kehilangan esensi berdoa, maksud dan tujuan dan kepada siapa kita berdoa. Berdoa di sampaikan hanya sebagai ucapan kiasan, tidak diiringi dengan pemahaman budi pekerti kenapa doa itu dipanjatkan. Beberapa orang tua sudah bangga bila anak anak bisa menghafal doa sebelum tidur atau doa sebelum makan dan lainnya. Barangkali mereka menganggap apabila sudah bisa menghafal doa doa atau sedikit mengaji sudah yakin anak telah terdidik dengan baik. Padahal seharusnya dari kecil anak anak mesti ditekankan dan ditanamkan ajaran berbudi pekerti. Inilah sesungguhnya awal dasar pendidikan yang akan berkelanjutan sampai mereka dewasa nanti. Bagaimana menghormati bapak dan ibu guru, orang tua, teman teman, bertoleransi,malu bila berbuat keliru, mau meminta maaf bila salah,tidak pelit pada teman, rukun dan masih banyak lagi. Dulu ketika saya SD, ada orangtua yang kita kenal atau bapak ibu guru yang kita lewati karena kita naik sepeda, saya selalu menyapa ; “Saya duluan pak/bu.” dan ini adalah hal yang lumrah karena kita malu bila dikatakan sebagai anak yang kurang sopan. Kalau dikampung akan ketahuan anak siapa, serta berdampak jelek kepada orang tua kita masing masing. Coba pehatikan umumnya anak anak SD sekarang, betapa mereka beraninya dan biasa saja terhadap guru gurunya. Bahkan anak SMP, SMA, seolah tak ada batas menganggap gurunya sebagai teman. Mahasiswa yang katanya kaum intelektual banyak yang sibuk tawuran. Disamping kewibawaan sang guru yang sudah pudar,ini semua tak lepas dari kealpaan kebanyakan orang orang tua jaman kini, kealpaan para pemimpin bangsa.

Aturan totokromo, unggah ungguh, sopan santun, isin, sungkan, teposliro, ngrumangsani sudah hilang dari diri sebahagian orang Jawa pada umumnya, yang ada mau menange dhewe mau pintere dhewe lan dadi sakkarepe dhewe. Orang Jawa yang tuapun sekarang sudah tidak nJawani, lupa bahwa dia orang Jawa. Lihat para pejabat kita, banyak yang orang Jawa, pandai tapi ora nJawani. Sudah tidak punya rasa malu,sungkan apalagi etika totokromo, teposliro, rakyate podho sengsoro, gedhe pamrih lan nafsune sehingga merusak tatanan Negeri ini. Banyak maling, koruptor, sikut sana sikut sini,apalagi bila kita melihat TV, banyak kemunafikan yang ada. Lali nek mengkono iku “ora ilok”.  Sing dadi penggedhe malah njajah bongsone dhewe. Orang Jawa pasti pernah mendengar kata kata seperti ini; “ Lha wong anake ora “Jowo ” karo wong tuane.” (Lha anaknya tidak “Jowo” dengan orang tuanya) atau “ Bojone ora “Jowo” karo mertuane.” (Suaminya/istrinya tidak “Jowo” dengan mertuanya). “Jowo” disini bisa diartikan “baik/perhatian/tidak pelit/dan hal hal baik lainnya”. Jadi bayangkan saja bagaimana seharusnya tingkah laku seorang Jawa sehari harinya, karena kata “Jawa” sendiri sudah menjadi arti yang baku yaitu “kelakuan atau sesuatu yang baik”. Oleh karena itu apabila ada orang Jawa yang menyimpang dari aturan aturan Jawa maka disebut tidak “nJawani.” Dulu orang orang luar menyebut kita adalah bangsa yang ramah dan periang, sekarang bangsaku banyak beringas dan berang. Dulu leluhur kita dengan adat dan budayanya pernah berjaya dan kesohor sampai keluar negeri serta disegani sampai beberapa generasi, sekarang mati mati dijajah secara ekonomi. Bahkan yang sangat membahayakan kita dan anak cucu sekarang ini adalah ; Kita ini “dibunuh” secara pelan pelan oleh “saudara sendiri”. Bayangkan betapa ngerinya, hampir semua makanan yang dijual dibubuhi dengan “racun”, mulai dari beras, sayuran dan buah buahan. Diawetkan disuntik, diberikan pemutih, semua tidak takut dosa tidak takut kuwalat !  Walaupun hal ini bukan perbuatan sebagian orang Jawa saja. Maksud saya sebagai pejabat “Jawa” cepatlah bertindak untuk mengatasi hal hal seperti ini dan jadilah pelopor yang berpatokan pada ajaran nenek moyang dan falsafah Jawa yang luhur tadi. Apa tidak khawatir bahwa bangsa ini nantinya akan jadi bangsa yang sakit raga dan jiwanya. Seperti halnya Islam, adalah agama Rahmatanlilalamin begitupun orang Jawa juga mempunyai falsafah, Memayu hayuning bawono  yang artinya secara keseluruhan sama : Manusia hidup di Dunia harus mengusahakan keselamatan,kebahagiaan serta kesejahteraan seluruh umat dan alam semesta  bahkan di Jawa ada tambahannya Ambrastho dur Hangkoro yang artinya memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Alangkah bahagia apabila kita bisa mencontoh akhlak Rasulullah, Nabi kita begitu rendah hati, begitu sopan santun sehingga siapapun yang datang kepadanya, ia akan berkata ; “Doakanlah diriku, keluargaku, sahabatku….” Padahal bukanlah beliau yang membutuhkan doa kita. Kitalah yang membutuhkan doa beliau.

Sudah lama orang Jawa sudah diajarkan ilmu sabar,sumeleh,pasrah, nrimo ing pandum. Wong kang sabar lan narimo wekasane bakal pikantuk ganjaran soko kang Moho Kuoso. Seperti yang dikatakan dibeberapa ayat, antara lain surat Al-Baqarah
(2) : 153.  “Hai orang orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar.” ada juga disurat Al-Anfaal (8) : 66, serta sabda Rasulullah. Jangan dianggap nrimo dan pasrahnya orang Jawa tidak berbuat, tetapi nrimo dan kepasrahan orang Jawa adalah sesuatu kesabaran, keikhlasan dan pengertian yang sangat dalam kepada kehendak Tuhannya.

Kemarin di Pasar Minggu sambil menunggu teman, saya numpang duduk didekat ibu penjual sayur, badannya agak kurus aclum kurang tidur. Kebetulan pula orang Jawa. 
“ Sekarang sepi kok pak mboten kados ndhek mbiyen, ini sudah jam 9.00, 25 iket aja belum abis.” katanya. Ibu ini jualan Bayam ikat, daun singkong ikat dan kecambah. 
“ Tadi malam dari jam berapa ?” tanyaku. 
“ Jam sedoso pak ampun ten mriki, biasane jam pitu mpun wangsul.”…… 
“ Tapi pak,” terusnya 
“ Tuhan niku adil.” Sambungnya cepat cepat seperti orang yang takut kualat. 
“ Adile ten pundi buk ?” tanyaku lagi. 
“ Lha riyen niko pak kulo tasih nguliyahake anak wedok. Riyen niku kulo nek mbeto satus sampek satus seket iket, jam pitu mpun telas, jam sementen niki kulo mpun ngaso ten nggriyo. Rumiyin diparingi luwih kalih Gusti Alloh lha sakniki bocahe mpun lulus S1 dadi biayane mpun kurang mboten kathah melih. Mbok menawi sakniki selawe iket mawon cukup.” jawabnya kalem dengan bahasa Jawa pasar yang kentel. 
“Jawane pundi buk ?” tanyaku . 
“ Yoja pak ngaler.” jawabnya sambil sekali sekali menata dagangannya lagi. 
“ Lha disini tinggal dimana ?” tanyaku lagi pengin tahu. 
“ Nggih kontrak pak kalih anak wedok wau, Alhamdulillah pak mpun nyambut damel ten Sunter. Jane nggih mpun mboten angsal kerjo kalih piyambake, ning wong mpun biasa nyambut gawe dos pundi malih. Nggih dilakoni mawon.”

Saya sangat simpati dan terinspirasi dengan Ibu Jawa penjual sayur ini. Bila kita kaji dari kata katanya yang ikhlas dia tidak protes terhadap siapapun bahkan dalam kesulitan menjual dagangannya dia seakan maklum, tetapi tetap bekerja keras. Dari jam 10.00 malam sampai jam 9.00 pagi. Dan Ibu itu “nrimo ing pandum” serta pasrah dengan kehendak Tuhan dia tetap sabar dan berusaha. Dengan mengeluh berbicara “sepi” saja dia cepat cepat meralat ucapannya, bahwa “Tuhan itu adil”, dia takut kualat karena kemarin waktu anaknya masih kuliah dia sadar bahwa sudah diberikan rejeki yang cukup untuk membiayai anaknya tersebut. Biarpun badannya kurus, lusuh dan wajahnya kuyu kurang tidur, bahasanya  bahasa Jawa pasar, tetapi Ibu ini “sangat Jawa”. Sangat jauh berbeda dengan kebanyakan pejabat pejabat Negeri ini yang orang Jawa tapi hilang “Jawanya”.

Saya seorang Islam Jawa, tentu saja ingin tetap ngleluri budaya leluhur. Sebelum Islam masuk ke Negeri ini sudah ada adat istiadat aturan nenek moyang Jawa yang sangat luhur ada yang hanya beda istilah didalam Islam, yang terkadang disalah kaprahkan dan orang Jawa yang tidak mengerti mengiyakan atau yang sudah pinter belajar dari luar negeri mau merubah tatanan. Oleh karena itu, “ Ayo wong Jowo yo dadi Jowo, ojo ditinggal warisane poro leluhur ben ora ilang Jawane. Sing islam yo Islam, sing budo yo Budo, sing hindu yo Hindu, sing kristen yo Kristen. Bagi orang Jawa Islam, sebetulnya kita ini sudah cukup Islam, janganlah hidup dalam ilusi, seolah dengan memelihara jenggot dan berjubah panjang lebih Islam. Itu adalah adat dan budaya berpakaian masing masing negara, itu hanya penampilan, contohlah akhlak Rasulullah. Saya petik sedikit kata kata Kangjeng Sunan Kalijogo sebagai berikut : “ Ojo nganggo sarung palekat,wong Jowo yo budayane Jowo.” Islam tetap Islam ning Jowo. Saya rasa kita tetap indah dan Islam bila kita ke Mesjid pakai sarung batik dengan baju lurik misalnya. Selain melestarikan budaya sendiri juga mempromosikan produksi dalam negeri, toh tak kalah gaya kita memakainya. Ketimbang nanti diaku oleh bangsa Malingsia. Kojur ane !

Suatu kali saya pergi ke Samosir, saya tertarik barang barang souvenir yang dijual disana, saya mencoba tanya harga dengan nada suara yang agak tinggi/keras menyesuaikan seperti kebanyakan orang orang itu, karena saya pikir ini di kampung orang Batak, saya tak mau kalah stan. Sungguh saya salah kira, ternyata mereka ramah, suaranya tak meledak ledak seperti Simbolon teman aku di Jakarta, malu aku. Begitu juga beberapa tahun yang lalu kami pergi ke pelosok di wilayah Jember tepatnya di desa Sumberjambe, Sukosari, kebanyakan orang Madura banyak tinggal disana. Ketika saya sedang bertamu dan duduk duduk diteras lantas ada seorang yang lewat dijalan depan rumah, serta merta seorang Madura tersebut dengan sopan menyapa kami “Ngapora” katanya, bahkan orang yang sedang lewat naik delmanpun bilang kepada kami ngapora kala itu. Beda bila kita melihat seorang Madura di Surabaya yang sudah terkontaminasi dengan kemajuan atau kehidupan ini;  “ Dha’rema dhek dhek, kalo ndhak punya dhuit ndhak usah gang pegang.” Suatu kali ketika ingin beli buah di kaki lima dan nggak jadi, atau ketika kita naik becak sang pengemudi ngebut dan kita menegurnya : “ Pelan pelan bang !”  Jawabnya; “ Telongewu saj ja mentak slamet.” Begitu pula halnya di Jawa Barat, ketika saya pergi ke suatu kampong saya berpapasan dan tidak mengenal orang itu, mereka menegur saya dengan “punten” katanya sambil telapak tangan kanannya lurus kebawah badannya agak membungkuk sedikit. Itu tadi beberapa contoh dari beberapa daerah yang masih murni. Jadi saya yakin asli bangsa kita ini atau leluhur leluhur bangsa kita ini, sangatlah berbudi pekerti dan mempunyai sopan santun yang sangat tinggi. Dalam tulisan ini sesungguhnya saya ingin mengajak seluruh suku suku bangsa di Indonesia ini terutama orang Jawa untuk ingat kembali kepada ajaran budaya dan adat istiadat leluhur masing masing.  Saya percaya para orang orang tua dahulu selalu mengajarkan kebaikan dan belum tersentuh dan terpengaruh budaya dari luar serta politik asing. Batak,Padang,Kalimantan,Sunda,Bugis,Madura,Ambon dst ingat kepada ajaran orang orang tua kita yang luhur untuk bersatu mengembalikan keterpurukan Negeri tercinta ini. Budaya adalah pondasi bangsa.

Sejatine wong Jowo tidak sekedar diajarkan “ora ilok”,“ wedi dosa ”,” wedi kuwalat ” dan selalu ingat sama yang “ Nggawe urip ”, tetapi dari bayi procot sudah diajarkan bagaimana kita hidup, perilaku kita di Dunia, budi pekerti ajaran yang sangat luhur. Ini semua telah kita lupakan, dasar dasar perilaku hidup ini kita lupakan dan terkadang kita hanya mendengar kotbah Surga Neraka saja. Jika boleh saya mengusulkan kepada Mendikbud, mata pelajaran Budi Pekerti dimasukkan dalam mata pelajaran pokok dan salah satu yang menentukan bisa lulus tidaknya siswa. Sebahagian orang Jawa sudah lupa begitu banyak nasehat dan falsafah Jawa yang masjhur,sampai orang Barat sendiri ingin mempelajarinya. Sebagai orang Jawa marilah kita eleng eleng supoyo ora lali tetap ngleluri ajaran luhur hidup orang Jawa.

Jakarta.2011
RM HS.

Ketika ku mengenangmu IBU

Ketika ku mengenangmu  IBU


“ mBuuuull………………….maghrib !
Surup surup kok ndhik njobo (maghrib maghrib kok diluar).” Teriak Ibu sambil masuk Jeding. “ Maghrib maghrib itu masuuuk jangan terus dihalaman nggak iloh le, banyak setan lewat ! Sembahyang sana ! nenuwun marang Gusti, ben slamet, pinter sekolahe, akeh rezekine.” Tak lama adikku yang masih sekolah di Taman Siswa masuk, pulang. Sementara masih kedengaran suara lembut ibuku dalam bahasa Jawa mendoa………………………… “ Duh Gusti ingkang Moho Suci, Engkaulah yang membuat hidup dan mati, lindungilah kami dari segala keburukan, sejahterakanlah kami, berikanlah kami jalan yang Engkau telah tunjukkan Ya Allah, jadikanlah anak anakku orang yang senantiasa berguna untuk keluarganya,saudaranya, orang tuanya, Agamanya serta Nusa dan Bangsanya. Ya Allah berikanlah kami kesehatan lahir dan batin, terima kasih atas rezeki yang telah Kau limpahkan kepada kami, Ya Allah, ampunilah kami………………………………. Amiiin.” Hatinya tegar semangatnya besar, ingatannya tajam, kasihnya tulus. Dibibirnya selalu penuh dengan doa doa panjang untuk kami anak anaknya, semoga bahagia….semoga sejahtera…..semoga….semoga…………………………
Kuingat dua bait lirik Iwan Fals dalam lagunya “ IBU “………seperti udara kasih sayang yang kau berikan, tak sanggup kumembalas Ibuu…..Ibuuu.

“Penyakit jangan dimanja ! katanya “ Mundak kerasan.” Ibu suka marah kalau kami gampang menyerah. Ibuku pandai cerita, mendongeng. Dari mulai cerita Wayang, sejarah, asal usul nama nama Kota di Jawa, Babad Tanah Jawi, juga jaman perang Kemerdekaan, Bapak dicari cari oleh Belanda, rumah kami dibakar. Waktu mengungsi, oleh Kakek ayah Ibuku, Bapak sekeluarga diambilkan daun Keladi yang berdaun lebar kalau di Jawa namanya Bentul, masing masing disuruh pakai payung daun tersebut, supaya matanya Belanda jadi “siwer” tidak melihat dan kami sekeluarga selamat meneruskan pengungsian menyeberangi kali Laor. Didalam pengungsian kakakku perempuan “kemasukan”dan menjadi pintar (dukun cilik). Dari rumah yang dibakar tersebut yang tersisa adalah Tombak dan Keris Bapak yang masih kusimpan sampai saat ini. Keanehan keanehan dan kesaktian kakek buyut dijaman penjajah, ada yang tak bisa meninggal bila tubuhnya tidak dipisah pisah akhirnya tubuhnya dipotong potong oleh Belanda ; Kepalanya ditancap di tonggak ditaruh diperempatan jalan, lehernya di hanyutkan ke sungai sampai ke laut selatan dan tubuhnya dikubur dibarat sungai Nggayam Panggul. Banyak lagi cerita cerita serupa seperti itu bahkan cerita cerita Gaib yang mengasyikkan. Sampai sekarang beberapa masih kuingat cerita itu. Apalagi cerita Wayang, antara lain kisah Mahabharata, Karno Tanding, Bisma gugur, lahirnya Wisanggeni, lahirnya Gatotkaca, Harjuno Sosrobahu serta yang lain lainnya. Dan aku paling suka tokoh pewayangan Bima, Ksatria kedua Pandawa. Malah khusus kutempa, kupesan di tukang pembuat Wayang kulit tetangga Ibu, kubawa ke Jakarta. Kala malam malam kuingat tembang menjelang tidur itu (orang Jawa bilang di uru uru). Suara Ibu memang merdu, sepotong yang kuingat.”Ojo turuu soreee kakii…ono Dewoo nganglang jagad…………dan aku terlelap sampai pagi. Ayahku punya seperangkat Gamelan. Pabila sore sore kami kumpul, Ayahku yang nggender atau nyiter, Ibu yang nembang. Pangkur, Mocopat, Kinanti, Dandang gulo, Maskumambang dan masih banyak lagi. Kami larut dengan suara Ibu dalam iringan gending gamelan Bapakku.   Tenang dan tenteram.

Ibuku adalah perempuan kebanggaanku. Beliau serba bisa, tegas, pemberani dan sebagai wanita sangat disegani. Ketrampilan Ibu banyak sekali, mulai dari menjahit, border, merajut (mbentel), membuat tas dari manik manik, sampai anyaman rotan untuk tempat buah atau hantaran. Apalagi memasak atau membuat kue, ahlinya. Bak merek Rumah makan Padang “ Bundo Kanduang,” pasti enak dan sedap rasanya karena masakan Ibunya. Ada semacam grup kolega Ibu yang selalu kumpul bila ada yang mantu atau selamatan misalnya, beliau beliau itu membantu masak atau membuat kue,  “mbiyodo” namanya. Masih jelas dibenakku beliau beliau ini adalah ; Bu Sastro, bude Jupri, bu Mangku, bu Mul, atau bu Puji bahkan Yu Yah ikut di grup Ibu  ini, aku masih menyimpan fotonya. Aku masih ingat bajuku model sendiri ala Ibu, serta jaket rajutan (sweater) dari benang wool tebal kebanggaanku. Aku masih memakainya semasa SMA. 

Ada banyak cerita lucu tentang Ibu ketika kami masih tinggal dirumah besar. Disebut rumah besar karena rumahnya memang besar dengan jendela yang tinggi dan besar, sebesar pintu rumah rumah jaman sekarang dan pintunya apalagi, pintu pintu krepyak besar warna krem yang pegangan kuncinya dari keramik oval berwarna putih, juga halaman serta pekarangan belakang yang luas, ada pohon Kelapa, Kelengkeng, Jambu klutuk, Klampok (Jambu air), Rambutan, pohon Genitu (sawo Belanda), Moris (sirsak), Menuwo, pisang, Pepaya, Jeruk Bali yang besar besar itu, Belimbing buah, belimbing Wuluh, Kopi anjing yang buahnya menempel dibatang pohon (barangkali termasuk langka sekarang ini), Kelor, buah Mengkudu dan macam macam jenis tanaman disana bahkan pohon pohon besar seperti Randu kapuk yang pohonnya kehijau hijauan menjulang tinggi, pohon Asam dan lain lainnya. Dihalaman depan juga ada tanaman Kelengkeng yang bisa dibuat ayunan dan aku pernah jatuh pingsan karenanya, serta beberapa tiang tinggi tinggi kerekan burung Perkutut Ayahku selain dikanan kiri lisplang pendopo. Disamping kanan ada jalan panjang kebelakang menuju garasi dan disisi kanannya ada pohon jambu serta tanaman pagar entah apa namanya bunganya besar putih putih wangi. Untuk memasuki rumah tersebut harus naik trap (undak undakan) hampir  1 meter lebih tingginya ke pendopo yang ditengah tengahnya ada pot besar tempat Kuping Gajah yang ditanam Ibu. Agak masuk sedikit kedalam yang masih terbuka ada meja marmer persegi delapan yang hamper bundar serta beberapa kursi kayu yang berjok rotan mengelilinginya. Untuk masuk keruang tamu dalam ada pintu kupu kupu besar. Dirumah induk ada 4 kamar besar besar dikanan kiri dan 1 kamar sedang. Dikamar kiri depan kosong biasanya untuk menginap tamu tamu famili, dikamar kiri tengah kamar keluarga yu Yah (mas Ngadiman). Kamar depan kanan diisi seperangkat gamelan Bapak dan kamar Ibu di tengah kanan, dibelakang kamar Ibu ada kamar satu lagi dan disebelah kamar tersebut ada garasi mobil. Jadi posisi garasi ada dibelakang sedang dibelakang garasi ada sepen (gudang) ada kamar lagi untuk pembantu dan dapur belakang, ditengahnya halaman kosong yang bisa langsung menuju kepekarangan belakang yang banyak tanamannya itu. Sebelah kiri belakang yang dibatasi halaman kosong tersebut berhadap hadapan dengan Sepen, kamar pembantu dan dapur, ada satu ruangan kosong dan disampingnya berderet tiga kamarmandi.Jadi dibagian belakang ini ada atapnya tetapi kanan kirinya terbuka untuk menuju ke ruangan ruangan tersebut seperti bangunan untuk orang jalan dirumah sakit. Bahkan rumah ini katanya berhantu. Suatu hari Mas Di datang dari Lumajang berdua dengan anak buahnya dan menginap dirumah. Waktu itu mas Paidi ini kalau nggak salah Danramil disana, mas Di adalah suami dari yu Siti yang sekarang tinggal di Bali, jadi menantu keponakan Ibu. Menjelang tengah malam Ibu terbangun karena mendengar suara menderum derum seolah suara tersebut dari arah garasi, karena kamar Ibu posisinya ditengah sebelah kanan dan lebih tinggi dari garasi maka kedengaran jelas dari kamar Ibu. Ibuku ini orangnya kan pemberani, biasanya Ibu kalau kedengeran sesuatu dan bilang Bapak ; “ Pak ono uwong !“ ( Pak ada orang/maling!) Bapak hanya menyahut ; “ Tikus kuwi.”  Dalam hal ini tak berpikir lama Ibu mengambil sentolop (senter) dan pentungan lalu membangunkan mas Paidi yang sedang asyik bermimpi. “ Di, Di, tangio ! montormu dicolong maling !” kata Ibu pelan membangunkan mas Di (Di, Di, bangun! Mobilmu dicuri orang!). Akhirnya semua bangun, juga supirnya mas Paidi langsung lari menuju garasi. Ternyata mobil masih utuh disana tak kurang suatu apa, akhirnya semua masing masing masuk kamar kembali melanjutkan mimpinya. Tidak lama kemudian terdengar lagi mobil distarter orang, karena tidak enak Ibu bangun sendiri tak lupa senter dan pentungan ditangan. Lewat didepan kamar supirnya mas Paidi tadi suara mobil tambah kencang, usut punya usut ternyata pak supir tadi ngoroknya ngalahin mesin diesel huuur…huuuur…rokhgg...huuuur…rokhggg…(mendengkur).
Paginya ketika ramai ramai sarapan, ibu cerita tentang hal semalam, semua tertawa atas kejadian tersebut, mana ada yang berani waktu itu orang nyuri mobil tentara, mobil sipil saja maling takut,nggak seperti sekarang meleng sedikit amblas! Entah benar entah tidak, sepengetahuanku menantu menantu keponakan baik dari pihak Bapak atau Ibu sendiri, banyak menyayangi beliau ini. Sering mereka datang mengunjungi kami dan sangat perhatian kepada Ibu ; Seperti yang kuingat mas Nyoto dan yu Tiyah putra pakde Pardi, mas Haripi yang tentara putra pakde Nito (saya masih ingat diberi oleh oleh mainan pistol pistolan), sekarang beliau berada di Makasar, mas Musiran suami yu Sri yang di Talun Blitar (mas Musiran ini sangat memuji muji Ibu), nak Mukasim suami Win Jember, orangnya agak klotokan, ceplas ceplos tetapi baik hatinya, beliau ini yang menjemput saya dan Tulus  dari Pos Polisi Jember ke Sumberwadung ketika kami mencari mereka. Ibu bercerita bahwa kasur beliau baru; “ Dikirimi Mukasim.” kata Ibu, “ Iki kasure Yang Ti wis atos ! diganti ae, ndhik kebon akeh kapuk ! ” begitu Ibu menirukan gaya nak Mukasim bicara. Waktu itu kasur kebanyakan dari kapuk, bukan spring bed macam sekarang. Terakhir nak Kasim mengolok olok saya ketika kami bertemu di Jakarta dan saya sudah ganti mobil Kijang yang sebelumnya saya pakai sedan. “ Lha iki baru mobiiil, jangan kayak kemarin, pak Mbung”katanya. Jadi aku ingat betul bahwa beliaunya ini suka sekali dengan mobil minibus (artinya bisa rame rame, tidak egois barangkali). Sayang sekali beliaunya ini tidak berumur panjang, dipanggil Sang Khaliq ketika main tennis. Mas Iskak bapaknya Budi, juga sering datang kerumah. Mas Iskak ini ipar iparan dengan mas Paidi yang ceritanya diatas mobilnya mau dicolong maling. Adalagi mas No Wajak adik yu Lik Achmad Wajak, selalu menengok Ibu. Mas No ini pernah sakit dan dirawat oleh Ibu, jadi semacam anak sendirilah. mas Dari apalagi, sering sekali datang kerumah. Jadi akhirnya kami juga dekat dengan beliau beliau ini serta ada kenang kenangan tersendiri.

Aku masih ingat juga ketika Ibu memanggil bapak Guruku, Kepala Sekolah dan pak Polisi yang marah mau menahanku, kerumah. Gara garanya Guruku kelas V SR (SD) waktu itu, menampar murid perempuan teman sekelasku dan pingsan, sehingga aku dibawa ke Kantor Polisi supaya bersaksi bahwa aku juga ditamparnya. Karena saya nggak ditampar oleh Guruku tersebut, ya aku nggak mau bohong. Pak Polisi tersebut yang anak perempuannya ikut bersaksi dan kebetulan juga sama sama teman sekelasku itu, malah marah dan membentakku sambil menghentakkan bedilnya yang LE ke lantai menakutiku dan berkata : “ Nek ora gelem ngaku, mengko kowe tak tahan tak lebokke Bui ngarep kae !” (Kalau nggak mau ngaku, nanti kamu saya tahan dan dimasukkan ke Sel di depan sana !). Saya tetap bilang tidak. Akhirnya disuruh pulang. Jadi hari itu aku terlambat pulang. Ibu tidak suka kami mampir atau main main dulu selepas sekolah. Harus pulang dulu.  Sebelum Ibu bertanya kenapa terlambat pulang, aku langsung ceritakan kejadian tersebut kepada beliau. Keesokan harinya Ibu telah memanggil Kepala Sekolah, Guruku dan ternyata juga pak Polisi yang membentak mbentakku kemarin. Sampai sekarang masih kuingat namanya, Pak Hanjono. Sepintas kudengar diruang tamu kata kata Ibu ke pak Hanjono yang Polisi tersebut.“Sekali lagi bapak membawa anak saya ke Kantor Polisi dengan tidak sepengetahuan saya,pak Hanjono akan saya tuntut. Bapak tahu bahwa anak saya masih dibawah umur,kelas V SR.” “ Ya Bu, saya minta maaf.” Kata pak Hanjono. Dan Bapakku, dengan “diamnya”itu banyak orang yang merasa segan. Pasangan yang cocok dengan Ibu. Sebulan kemudian bapak Guruku tersebut dimutasi ke Sekolah lain. Sampai sekarang aku nggak habis pikir apa ada jampi jampi atau doa doa Ibuku sehingga setiap orang yang dipanggilnya mau saja datang kerumah. Ibu memang sangat dikenal dan disegani dikota kecilku itu. Bila Ibu mau keJakarta, waktu itu diperlukan surat jalan dari Kelurahan untuk bepergian, kami nggak perlu datang ke Balai Desa untuk mengambilnya, ada staf Kelurahan yang segera mengantar surat jalan tersebut. Pokoknya bilang saja “ Diutus bu Soekari.” (disuruh bu Soekari). Pasti 100% halal. Selain dikenal, Ibu memang suka menolong, sampai sampai bila ada yang mendadak mau melahirkan dan Bidan belum lagi datang, Ibu bahkan bisa dan mau menolongnya seperti dukun bayi sampai anak itu lahir. Itu barangkali salah satu, kenapa masyarakat disana banyak menghormatinya.

“ Ibukmu seperti Raden Ajeng Kartini!” Kata salah seorang teman SR ku ketika Ibu datang kesekolah. Bahkan menurutku, Ibuku lebih cantik dari Ibu Kartini yang sebenarnya. (maaf bu Kartini ya). Ibu adalah wanita yang adil dan penuh kedisiplinan. Bangun jam setengah 4 pagi dan kami sudah sarapan jam 6 pagi. Kedisiplinan itu berlaku bagi kami semua. Sesudah kakak perempuanku, sampai kelas 2 SMP aku masih bertugas belanja sayur ke Pasar. Dahulu ke Pasar mesti membawa keranjang sendiri dari rumah, tidak seperti sekarang, kita diberikan kantong plastik oleh penjualnya sehingga menimbulkan banyak limbah. Keranjang plastik tersebut saya letakkan dibelakang punggung, pegangannya kumasukkan ketangan sampai kebahu kanan kiri seperti sayap R.Gatotkaca. Berjalan menuju pasar sambil menghafal apa yang mau dibeli, pada waktu itu malu rasanya apabila belanja membawa catatan. Bila kami tidak tahu kualitas barangnya, misalnya beli ikan, selalu bilang saja “ Diutus bu Soekari.” Pasti beres. Aku mempunyai 2 saudara kandung dan 3 saudara angkat yang diambil sejak bayi oleh Ayah Ibu, yang 1 tidak jelas, yatim piatu dan Ibu tidak pernah menjelaskan siapa dia dan yang dua adalah keponakan Bapak, putera dari pak De. Karena sikap Ibu yang adil dan bijak,tidak ada diantara kami yang kandung merasa ada anak angkat. Itupun sungguh aku baru tahu setelah SMA bahwa beberapa kakakku adalah keponakan Ayah. Ibuku senang berpuasa dan tirakat,sehingga kami atau paling tidak aku sampai saat ini terbiasa dengan hal itu. Sekali sekali kami diajaknya ikut tidur dilantai dekat pintu, meninggalkan kasur kami yang empuk. Tirakat. Ada sesuatu hal yang penting ritual yang selalu dilakukan Ibu kepadaku, semisal aku mau ujian, Ibu selalu melangkahi aku berulang 3 kali dan aku menunduk jongkok sambil merapatkan kedua telapak tanganku seperti menyembah. Itu beliau lakukan terakhir ketika aku pergi ke Jakarta ini.

Ibuku memang luar biasa. Ibu adalah kebanggaanku, seperti kata kata penyair. “ Ibuku Cuma satu, tapi wajah hatinya kulihat diserba mana. Ibuku Cuma Ibunda, antara kami ada pesona rengkuhan kuat teramat ghaib dan terasa diriku seperti lumut ganggang laut. Panjang terentang menyibak muka air, mengembara dengan ketumbuhan pucuknya. Tapi akarku tetap menghunjam kedada Bunda. Ibuku Cuma satu, tapi wajah hatinya kulihat diserba mana.”

Delapan bulan kurang lebih Ibu di Jakarta dimana anak anaknya tinggal. Itupun untuk memboyong Ibu kemari susahnya setengah mati. Dengan segala usaha dan rayuan akhirnya Ibu mau juga. “ Panas disini, aku tak tahan.” Katanya, “ Pulang saja, aku ndak apa apa disana, aku akan lebih sehat disana, dirumahku sendiri.” Dan terakhir, Ibu seolah olah menakut nakuti kami. “ Pesan Swargi (almarhum) Bapakmu, aku ndhak boleh meninggalkan rumah lama lama, bahkan aku harus mati disana. Kasihan Bapakmu nek aku tinggal disini. Kemarin aku ngimpi Bapakmu rawuh (datang), aku mau diajak pergi…………. Dhawuhe Bapakmu nangkono luwih enak.” (kata Bapakmu disana lebih enak).

Semula memang aku ingin Ibu tinggal bersama kami diJakarta, dengan pertimbangan, Ibu sudah sepuh, tinggal sendiri dirumah bersama dengan keponakkanku yang masih sekolah dan seorang pembantu. Dan yang lebih merisaukan kami, Ibu punya darah tinggi, bila mendadak ada apa apa kami terpisah 1000 kilo, tidak bisa setiap saat menengok beliau. Memang ada salah satu keponakanku perempuan sudah berkeluarga yang sangat disayang oleh Ibu disana, tapi tak serumah, mereka agak jauh juga rumah tinggalnya. Pernah suatu waktu aku terima kabar dari keponakkanku yang bersama Ibu ; “ Yangti gerah, nek biso pak Mbung kondur.”( Yangti sakit, kalau bisa pak Mbung (panggilan akrab kepadaku dari semua keponakan keponakanku) pulang). Langsung aku minta ijin Kantor dan berangkat pulang. 1 hari semalam perjalanan, pagi sampai, dengan rasa penuh kekuwatiran mobilku kencang masuk kampung, persis didepan rumah, kulihat Ibu sedang bercanda di teras dengan keponakanku tersebut. Alhamdulillah. Rupanya Ibu hanya kangen dengan kami. Tapi cutiku habis dibuatnya. (Dalam hal ini saya sangat berterimakasih kepada mbak Tatik Bidan sebelah rumah Ibu yang selalu control dan perhatian bila Yang Ti sedang sakit,begitu beliau memanggil Ibu). Semula aku membayangkan Ibu pasti akan senang tinggal di Jakarta, walaupun meninggalkan cucu kesayangannya di kampung. Seandainya sedang tak berkenan di tempatku, ya kerumah kakak perempuanku, kalau sudah nggak kerasan dirumah kakak, ya bisa kerumah adikku. Begitu seterusnya. Dan kenyataannya tak bisa. Nggak semudah itu. Ternyata banyak hal yang kita tak mengerti kehendak orang yang kita cintai ini. Banyak contoh contoh serupa seperti ini dan kebanyakan orang tua tidak mau meninggalkan rumahnya. Ibu tak bisa ikut arisan atau aktif dikumpulan Ibu Ibu koleganya seperti disana dirumahnya,orang orang teman teman seusianya yang telah bertahun tahun bergaul dan mengenalnya. Ibu akan susah menyesuaikan peradaban dan ritme Jakarta yang begitu sibuk se olah olah semua dikejar kejar oleh waktu, semua dihitung dengan uang. Beda dengan disana, dirumahnya. Tenang, tenteram tidak kesusu susu, damai. Dan banyak hal hal lain yang menjadikan Ibu tak bisa tinggal menetap di Jakarta sini. Terakhir timbul ide supaya Ibu mau tinggal di Jakarta. Ibu harus punya rumah sendiri disini, tetapi dekat dengan kami. Ibu akan berkuasa dirumahnya sendiri seperti disana. Tetapi hal ini harus siap dana, sebuah rumah di Jakarta bukanlah hal yang sedikit. Halaman rumahku memang luas, kalau Ibu mau bisa dibangun rumah kecil kecilan untuk beliau, tapi ini bukan jalan keluar, masalahnya Ibu ndhak setuju. Atau lebih baik rumah Ibu dijual, dibelikan disini, kekurangannya kita tanggung rame rame, patungan (urunan). Semua setuju. Ibu yang tak setuju. Katanya : “ Aku ora biso tinggal di Jakarta ngger, Ibu nggak mau mati disini. Kasian Bapakmu.”   Jalan buntu………………………….

Kesehatan Ibu semakin berkurang dan selalu ingin pulang. Biar bagaimanapun ternyata beliau harus pulang dan kami harus cari jalan keluar lainnya bagaimana disana nanti. Kami kalah…………………… Tapi ada satu jalan keluar lagi. Kami kan berempat (tambah satu kakak angkatku). Setahun kan 12 bulan dibagi 4 sama dengan 3. Jadi 3 bulan sekali ada yang pulang mengunjungi Ibu, dengan perhitungan cuti kan setahun sekali. Setuju. Tapi pelaksanaannya tak begitu. Aku tak tahu apa yang ada dipikiran Ibuku. Apa benar memang Ibu ingin selalu dekat dengan Bapak. Demi kebahagiaan beliau akhirnya Ibu pulang, lucunya Ibu kelihatan sehat bersemangat. Tiga bulan setelah itu, Ibuku betul betul pulang menyusul Ayah. Aku termenung memaknai semua ini. Maafkanlah kami Ibu dan Ya Allah ya Tuhanku, ampunkanlah dosa dosanya,
terimalah Ibu dan Ayahku di SurgaMU.    Amiiin.

………….Seperti udara kasih sayang yang kau berikan, tak sanggup ku membalas………….Ibuuu………………………..Ibuu.

JAKARTA, 22 Januari 1993 Peringatan seribu hari wafatnya ibundaku tercinta Soekarmi. RMHS.